Tampilkan postingan dengan label Kriminal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kriminal. Tampilkan semua postingan

Lima Bocah SMP Diamankan Polisi Gegara Curi 7 Ekor Ayam


 

Tulungagung - Lima bocah yang masih duduk di bangku kelas VIII SMP diamankan ke Polsek Kedungwaru setelah diduga mencuri tujuh ekor ayam jago di wilayah Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung. Kelimanya berasal dari Kecamatan Kedungwaru, Kauman, dan Gondang. Saat ini, kasus tersebut diselesaikan melalui mekanisme restorative justice karena seluruh pelaku masih di bawah umur.

Kanit Reskrim Polsek Kedungwaru, Aiptu Cipto Anom, menjelaskan aksi pencurian terungkap setelah pemilik kandang mendengar suara sepeda motor saat mengantar istrinya ke kamar mandi. Ketika dicek, pintu kandang sudah terbuka. Korban kemudian bersama rekannya melakukan pencarian hingga menemukan ayam-ayam tersebut hendak dijual di kawasan timur Patung Polisi Kedungwaru.

"Kelima anak ini masih di bawah umur, rata-rata kelas dua SMP. Karena itu kami memanggil orang tua mereka, mempertemukan dengan korban, memberikan pembinaan, dan proses hukumnya kami upayakan melalui restorative justice atau diversi sesuai ketentuan yang berlaku," ujar Aiptu Cipto Anom.

Dari hasil pemeriksaan, para bocah mengaku nekat mencuri ayam jago untuk mendapatkan uang yang kemudian digunakan membeli rokok dan nongkrong. Polisi juga mengungkap kelompok ini diduga pernah melakukan aksi serupa di beberapa lokasi lain, meski untuk kejadian di Kedungwaru baru pertama kali mereka beraksi.

Operasi Patuh 2026, Polisi Intensifkan Penindakan Pelanggaran Melalui Kamera ETLE

 


Beritatulungagung - Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Jawa Timur bersama jajaran wilayah akan menggelar Operasi Patuh 2026 secara serentak pada 8–21 Juni 2026. Operasi ini menjadi langkah penegakan hukum sekaligus edukasi kepada masyarakat untuk meningkatkan kedisiplinan berlalu lintas di jalan raya.


Kasatlantas Polres Tulungagung AKP Mohammad Taufik N, mengatakan Operasi Patuh 2026 tidak hanya berfokus pada penindakan, tetapi juga mengedepankan upaya preventif dan persuasif. Penerapan sistem tilang elektronik (ETLE) menjadi dominasi dengan porsi 60 persen, disusul tilang manual 30 persen, serta teguran simpatik 10 persen kepada pelanggar.


"Nanti kami akan memaksimalkan penindakan pelanggaran terutama yang kasat mata. Penindakannya nanti lebih banyak pakai ETLE, baik itu statis, mobile maupun handheld," kata AKP Mohammad Taufik, Sabtu (6/6/2026). 


Sejumlah pelanggaran yang menjadi sasaran utama di antaranya penggunaan pelat nomor tidak sesuai aturan atau dimodifikasi, melawan arus, penggunaan ponsel saat berkendara, tidak memakai helm SNI atau sabuk keselamatan, hingga pelanggaran batas kecepatan dan pengendara di bawah umur tanpa SIM.


Melalui operasi ini, kepolisian berharap tercipta budaya tertib berlalu lintas yang lebih kuat di masyarakat. Keselamatan di jalan diharapkan menjadi kesadaran bersama demi menekan angka kecelakaan dan mewujudkan lalu lintas yang aman, tertib, dan berkeselamatan.


"Masyarakat para pengguna jalan kami imbau untuk tertib dan mematuhi aturan lalu lintas. Operasi ini tujuan utamanya adalah untuk menekan angka kecelakaan lalu lintas," ujarnya. 

Tuntut Kesetaraan Status dan Kesejahteraan, Ratusan Guru Swasta Tulungagung Bertolak ke DPR RI


Tulungagung – Ratusan guru yang tergabung dalam Pengurus Daerah Persatuan Guru Seluruh Indonesia (PD PGSI) Kabupaten Tulungagung bersiap bertolak menuju Gedung DPR RI di Jakarta. Aksi yang dikemas sebagai agenda silaturahim nasional ini bertujuan untuk menyuarakan aspirasi terkait kesetaraan nasib, status, dan kesejahteraan guru swasta.


Ketua PD PGSI Tulungagung, Nur Qomarudin, mengungkapkan bahwa selama ini terdapat mispersepsi dan dikotomi yang kuat di dalam regulasi kedinasan. Guru honorer sering kali hanya diidentikkan dengan mereka yang mengabdi di sekolah negeri. Sementara itu, guru-guru yang mengajar di bawah yayasan, sekolah swasta, maupun madrasah swasta seolah dikesampingkan.


"Kami mengagendakan agar dalam amandemen undang-undang nanti, pengelolaan guru bisa berada dalam satu komando, satu manajemen, dan satu sistem, yaitu Guru Indonesia. Tidak ada lagi dikotomi antara guru negeri, swasta, honorer, maupun yayasan," ujar Nur Qomarudin saat ditemui sebelum keberangkatan.


Soroti Diskriminasi Jalur Pengangkatan ASN


Nur Qomarudin menilai, sistem rekrutmen ASN (termasuk P3K) saat ini masih belum berpihak secara adil kepada guru swasta. Guru di sekolah negeri bisa mendapatkan afirmasi atau kemudahan melalui basis data (database) yang ada. Sebaliknya, guru swasta yang bahkan sudah mengabdi selama puluhan tahun tetap harus bertarung melalui jalur umum.


"Guru-guru yang sudah sepuh (tua) dan berpengalaman 20 hingga 25 tahun harus bersaing di jalur umum melawan lulusan baru yang masih muda. Dari sisi akademik tertulis tentu berbeda, padahal dari segi pengalaman mengajar di lembaga, guru-guru senior ini jauh lebih unggul. Di sinilah kami menuntut adanya kesetaraan," tegasnya.


Selain masalah regulasi ASN, PGSI juga menyoroti rumitnya pengelompokan guru saat ini yang dinilai rancu. Mulai dari status guru *non-sertifikasi*, *sertifikasi non-inpassing*, hingga *sertifikasi inpassing* yang hanya menyetarakan golongan tanpa memberikan tunjangan penuh. PGSI mendesak pemerintah agar mempermudah akses sertifikasi bagi guru yang belum terdaftar sebagai langkah awal perbaikan kesejahteraan.


Luruskan Wacana Penghapusan Honorer 2027


Ketika disinggung mengenai isu penghapusan guru honorer pada tahun 2027, Nur Qomarudin mencoba meluruskan kekhawatiran yang berkembang di masyarakat. Berdasarkan informasi yang ia pelajari dari rilis Kemenpan RB dan Dirjen terkait, target tahun 2027 bukan berarti mendepak para guru honorer yang ada.


"Sepemahaman kami, maksudnya adalah menargetkan agar pada tahun 2027 status guru honorer itu sudah habis karena semuanya sudah diangkat (menjadi ASN/P3K). Bukan ditendang keluar, terutama bagi mereka yang memang sudah masuk ke dalam database Dapodik atau Simpatika," jelasnya.


Kendati demikian, ia tidak menampik bahwa jumlah guru honorer di Tulungagung baik di bawah naungan Dinas Pendidikan maupun Kemenag yang belum masuk Dapodik atau Simpatika masih sangat banyak. Hal ini pula yang menjadi salah satu poin perjuangan mereka di tingkat pusat.


Sembilan Organisasi Profesi Siap Kepung Jakarta


Keberangkatan massa dari Tulungagung ini diperkirakan membawa sekitar 110 peserta dengan menggunakan armada dua bus, yang mana koordinasinya telah dilaporkan ke Polres setempat.


Aksi yang rencananya digelar pada tanggal 20 Mei ini tidak hanya diikuti oleh PGSI. Nur Qomarudin menyebut ada sekitar 9 organisasi profesi guru sejenis—seperti PGMM dan FGSNI—yang akan melebur bersama di Jakarta untuk menyuarakan tuntutan yang sama. Sementara itu, organisasi PGRI dipastikan tidak ikut dalam koalisi aksi kali ini.

Toko Dibobol Maling, Rp 100 Juta Lenyap

 

Tulungagung - Dugaan pencurian uang tunai sebesar Rp100 juta terjadi di Desa Serut, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, Kamis (26/02/2026) pagi. Kasus ini kini ditangani Unit Reskrim Polsek Boyolangu, Polres Tulungagung.

Peristiwa tersebut diketahui sekitar pukul 06.30 WIB, saat korban hendak membuka tokonya. Korban mendapati meja kasir sudah bergeser dan laci dalam kondisi terbuka.

Kasihumas Polres Tulungagung, Iptu Nanang Murdiyanto, mengatakan setelah dicek, uang tunai yang sebelumnya disimpan di dalam laci kasir telah raib. “Korban mendapati uang tunai yang disimpan di laci kasir hilang. Total kerugian ditaksir sekitar Rp100 juta,” ujarnya.

Dari hasil olah TKP, petugas mengamankan barang bukti berupa meja laci kasir dan sebuah linggis kecil yang diduga digunakan pelaku untuk membongkar tempat penyimpanan uang. Polisi menduga kasus ini merupakan pencurian dengan pemberatan karena ada unsur perusakan.

“Saat ini anggota masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap pelaku. Kami juga mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan dan segera melapor jika mengetahui aktivitas mencurigakan,” pungkas Iptu Nanang Murdiyanto

Sementara itu dari rekaman CCTV, pelaku masuk ke toko pukul 00.37 WIB. Pelaku langsung mengarah ke kasir dan menguras uang tunai Rp100 juta yang tersimpan di laci. 

foto istimewa

#beritatulungagung #tulungagung 

108 Baut Rel Kereta Api Rejotangan-Blitar Dicuri



Blitar - Seorang pelaku pencurian baut bantalan rel kereta api di lajur Rejotangan-Blitar diamankan polisi. 

Kasus ini terungkap Rabu (7/1) setelah warga mengamankan seorang terduga pelaku yang kemudian diserahkan ke Polsek Sanankulon. Dari hasil penyelidikan, pelaku diketahui tidak hanya beraksi di satu titik.

KAI mencatat sedikitnya 108 baut penambat rel dicuri di lima lokasi berbeda pada lintas Blitar–Rejotangan. Kerugian materiil ditaksir lebih dari Rp4 juta. Hasil curian dijual ke pengepul barang bekas.

Manajer Humas KAI Daop 7 Madiun, Tohari, mengatakan baut penambat rel merupakan komponen vital untuk menjaga posisi dan kestabilan rel. Jika sampai hilang, risiko gangguan jalur hingga potensi anjloknya kereta bisa terjadi dan membahayakan penumpang.

"Awalnya yang diketahui 13, tapi setelah dikembangkan ada 108 buah," kata Tohari. 

KAI mengapresiasi peran masyarakat dan kepolisian, sekaligus mengajak publik ikut menjaga keamanan jalur rel. Di lintas ini melintas puluhan perjalanan KA setiap hari dengan ribuan penumpang, sehingga keselamatan adalah harga mati yang tak bisa ditawar. 


#beritatulungagung #tulungagung #blitar #KAI

Melihat Keseruan Turnamen Esport Mobile Legend antarsekolah di Tulungagung

 


Tulungagung - Puluhan tim E-sport antarsekolah saling beradu strategi dan ketangkasan dalam turnamen Mobile Legend Bang-bang di Tulungagung. Even ini merupakan ajang terbesar di eks Karesidenan Kediri. 

Menurut ketua panitia Revol, mengatakan turnamen yang digelar di GOR Rejoagung, Tulungagung tersebut diikuti oleh 32 tim dari berbagai SMA/MA/SMK di Tulungagung, Kediri dan Blitar. 

"Antusiasme peserta cukup tinggi, sampai melebihi kuota. Namun kami hanya buka 32 slot saja, karena even hanya berlangsung selama dua hari," kata Revol, Sabtu (23/8/2025). 

Menurutnya dalam pertandingan ini pihkanya menerapkan sistem Match by Match dalam babak penyisihan. Saat babak semi final dan final akan menggunakan sistem Best Of 3 dan Best Of 5.

"Mungkin ke depan bisa menggunakan sistem round table agar jumlah tim yang bertanding bisa lebih banyak lagi," ujarnya. 

Turnamen tersebut akan memperebutkan hadiah total Rp 50 juta dan piala bergilir dari anggota DPR RI Rizki Sadiq. Kompetisi antarsekolah ini sekaligus untuk mencari bakat-bakat atlet E-sport dari lokal eks Karesidenan Kediri. 

Dari pantauan di lokasi, ajang pertandingan Mobile Legend Bang-bang tersebut berlangsung meriah, masing-masing tim yang bertanding mendapatkan dukungan langsung dari ratusan suporter. Beberapa di antaranya memakai kostum khas hero yang ada di dalam Mobile Legend. 

Ketua E-sport Indonesia (ESI) Tulungagung, Mochamad Shiva Rosyadi, mengatakan potensi olah raga elektronik di wilayah cukup tinggi, sejumlah peserta mampu menunjukkan skil yang mumpuni dan diproyeksi mampu menjadi atlet berbakat. 

"Sebetulnya di Tulungagung dan sekitarnya ini punya potensi yang besar, anak-anak juga ada yang bertanding di skala yang lebih besar," kata Shiva. 

Untuk menggali potensi atlet pihaknya juga menggandeng beberapa sekolah untuk membuka ekstrakurikuler E-sport. "Jumlahnya belum banyak, tapi sudah ada lima SMA dan 1 SMP yang membuka ekstrakurikuler E-sport," jelasnya. 

Diakui pengembangan E-sport di kalangan sekolah masih menemui sejumlah kendala, di antaranya larangan penggunaan telepon pintar di sekolah serta belum terbukanya pengetahuan pihak sekolah terkait potensi gim. 

"Kami berharap dukungan sekolah dan pemerintah untuk bersama-sama mengembangkan E-sport di Tulungagung," imbuhnya. 

Sementara anggota DPR RI Rizki Sadiq mengatkaan turnamen Mobile Legend Bang-bang tersebut sebagai upaya mencari sisi positif dari pemanfaatan gawai. Dengan kompetisi diharapkan para remaja dapat mengasah kemampuan dan menunjukkan bakatnya. 

"Ini merupakan pertama kali saya mencoba berkomunikasi dengan generasi muda melalui E-Sport. Hal baru dan sesutu yang menarik bagi saya," kata Sadiq. 

Pihaknya berharap dukungan dari berbagai kalangan akan mempercepat pengembangan E-sport di wilayah Tulungagung, Kediri dan Blitar. 

"Turnamen ini dapat menumbuhkan sportivitas, kreativitas, kekompakan dan adu strategi. Bahkan melalui gim, anak muda dapat berprestasi," jelasnya.