Tulungagung - Industri kosmetik Indonesia dalam satu dekade terakhir melaju kencang. Di balik deretan merek yang berseliweran di etalase toko dan marketplace, ada peran besar sektor manufaktur yang bekerja “di belakang layar”. Salah satunya adalah PT Mash Moshem Indonesia, perusahaan maklon kosmetik yang tumbuh justru dari Desa/Kecamatan Rejotangan, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur.
Didirikan oleh Scorpi Filia, Mash Moshem bukan pemain baru. Sejak 2011, perusahaan ini telah memproduksi ribuan produk kecantikan untuk lebih dari 1.700 merek dari dalam dan luar negeri, dengan total varian yang menembus angka 7.000. Keberadaan pabrik di desa bukan kebetulan. Filia memang sengaja membangunnya di tanah kelahiran agar manfaat ekonominya dirasakan langsung oleh masyarakat sekitar.
“Sebagai putra daerah, saya ingin ada dampak nyata bagi wilayah ini,” ujar Filia, Sabtu (24/1/2026).
Beroperasi jauh dari ibu kota provinsi justru memberi keuntungan tersendiri. Biaya produksi bisa ditekan sehingga harga pokok penjualan klien menjadi lebih kompetitif. Selain itu, Upah Minimum Kabupaten (UMK) Tulungagung yang berada di level menengah Jawa Timur turut membantu efisiensi usaha. Saat ini Mash Moshem mempekerjakan sekitar 300 karyawan, dengan separuhnya bekerja di pabrik Tulungagung dan mayoritas berasal dari warga sekitar.
Namun membangun industri dari desa bukan perkara mudah. Filia harus membentuk tim yang solid, meningkatkan kompetensi SDM, serta memodernisasi mesin agar mampu bersaing dengan pabrikan besar di kota-kota industri. Hasilnya, meski berlokasi di Rejotangan, standar produksi Mash Moshem sudah mengacu pada kualitas internasional.
Hal ini terlihat saat PT Mash Moshem Indonesia memperkenalkan diri lebih dekat kepada publik melalui acara Exclusive Business & Factory Visit bersama JCI East Java dan Helmy Yahya. Banyak peserta baru menyadari bahwa perusahaan yang selama ini jarang tampil ke permukaan justru menjadi “hidden gem” di balik kesuksesan berbagai brand kosmetik.
Dalam sesi Economic Outlook 2026, Helmy Yahya menekankan bahwa industri kosmetik masih menyimpan potensi besar. Menurutnya, banyak brand besar justru tidak memproduksi sendiri, melainkan menyerahkan prosesnya kepada perusahaan maklon yang memang ahli di bidang riset, formulasi, dan produksi.
“Pengusaha sebaiknya fokus ke pemasaran dan pengembangan brand. Soal produksi, serahkan ke pihak yang sudah punya sistem dan ahlinya,” ujar Helmy.
Mash Moshem menjawab kebutuhan itu dengan pendekatan sebagai mitra pertumbuhan, bukan sekadar pabrik. Layanannya mencakup pengembangan formula skincare, body care, hair treatment, parfum, baby care, dan makeup, hingga desain kemasan, produksi massal, pengurusan legalitas BPOM, Halal, HSA, dan Vegan, bahkan pendampingan pemasaran.
Dengan modal sekitar Rp10 jutaan, calon pebisnis sudah bisa memiliki produk dengan merek sendiri tanpa harus membangun pabrik. Sistem maklon ini membuka peluang besar bagi UMKM untuk masuk ke industri kecantikan dengan risiko yang lebih terkendali.
Bagi Filia, keberhasilan klien adalah kepuasan tersendiri.
“Saya senang kalau klien kami berhasil dan tumbuh,” katanya.
Meski telah beroperasi lebih dari 13 tahun, memiliki sertifikasi CPKB Grade A dan ISO, serta klien internasional, Mash Moshem tetap memilih berjalan tenang. Tidak banyak klaim besar, tetapi konsisten pada kualitas dan dampak nyata.
Di balik produk-produk kecantikan yang digunakan masyarakat, ada proses panjang yang menuntut keamanan, kepatuhan regulasi, dan standar tinggi. Dari Rejotangan, Tulungagung, PT Mash Moshem Indonesia menunjukkan bahwa industri desa pun bisa menjadi penopang penting pertumbuhan industri kosmetik nasional, diam-diam, tetapi berdampak besar.
.jpg)

.jpg)
.jpg)
EmoticonEmoticon